December 28, 2009

Ketika Pena ku Terhenti

Keheningan sepi dalam kesendirian, terhayalkan tubuh wanita berparas anggun dalam benakku, berdiri menunduk sembari berucap “Aku Cinta Padamu”, hayalku terhentak saat kusadar iblis telah mendekati urat nadiku.
Kuraih sebuah pena, perlahan kutulisi lembaran-lembaran putih diatas meja. Sambil menengadah, tak henti-henti lidahku berucap “Aku Cinta Padamu, aku cinta padamu, aku cinta padamu…”, hingga terhenti di satu kata “cinta”. Sebuah kata dari pemaknaan yang telah hadir jauh sebelum yang dicintai telah ada.

Sejenak kecemburuanku timbul pada semua wanita. Wanita yang selalu menjadi mahluk tercintai. Tak jarang terdengar lelaki berucap kata cinta kepada semua wanita, sebagai pelampiasan sesuatu. Sesuatu yang mungkin abadi dan mungkin pula punah.

Kecemburuanku bukanlah pada diriku yang yang tak pernah mencintai atau mungkin dicintai, melainkan karena pemilik semua cinta hampir tak sesekali terberi cinta meski kutahu ia tak pernah butuh akan hal itu.

Ia tetaplah abadi meski hambanya tak lagi memberi cinta. Keabadian yang kini ternafikkan dan bahkan tak terlihat lagi oleh kita, kamu dia dan mungkin termasuk aku.
Kuakui menjadi wanita itu hebat, sering terucap dari lidahku, “ bahwa tangisan seorang wanita menjadi kehancuran jiwa seorang lelaki”. Wanita bagiku bukanlah pembuat ide-ide baru, melainkan kehadirannya telah memaksa kaum adam ‘tuk membuat-ide-ide itu. Ide yang terlahir demi pengakuan bahwa ia juga bisa dan perlu dibanggakan.

Sungguh wanita telah memaksa lelaki ‘tuk murtad dari Tuhannya. Segalanya bukan lagi tuk Tuhan, melainkan wanita yang dipertuhankan secara sadar atau tidak.

Penaku terhenti, saat terbayang arti cinta sesungguhnya. Mereka bilang “Apalah ari sebuah nama”. Benar dan kuakui bahwa nama tak memiliki arti selain makna yang timbul dari sebuah symbol.

Cinta adalah penyembahan tanpa demi sesuatu selain kepatuhan pada apa yang dicintai. Rabiyatul Al-Adawiyah, juga seorang wanita, bahkan tak pernah berpikir ‘tuk meraih surga atau lari dari neraka ketika berhadapan dengan Tuhannya. Iblis pun demikian, kepatuhan yang dilandasi cinta hanya demi yang dicintai, bukan karena sesuatu.

Kini cinta tinggallah symbol belaka dengan berjuta makna berbeda dari setiap manusia. Symbol dari rasa suka, sayang bahkan ingin memiliki, tanpa sadar bahwa Tuhanlah pemilik segalanya, tanpa sadar bahwa Tuhanlah yang patut untuk dicintai.

Katanya cinta…
Tapi, mengapa mesti berpisah..?
Bukankah kepatuhan dalam cinta berawal dari keyakinan,….ah mungkin keyakinan yang selalu berganti atau mungkin hilang.
Keyakinan tak terbangun hanya dengan materi ataukah terlihat, melainkan lebih dari sebuah proses pengapdian hingga terhenti pada satu titik kepercayaan bahwa patutlah saya meyakininya.

Sungguh sedih jikalau aku harus berucap “aku cinta dipandangan pertama”, belum yakin sudah cinta, ah… itulah symbol cinta yang terbantahkan.

Kembali penaku tegak dan secara sadar aku tulis dan semua lelaki harus mengakui bahwa dalam dirinya selalu ada sosok wanita yang sering berganti. Berganti paras dan prilaku, tetapi semua sama berawal dari kewajaran naluri yang slalu mengklasifikasikan lawan jenisnya.

Kembali tulisanku terhenti saat kusadar bahwa aku seorang lelaki. Kuhempaskan tubuhku keatas kasuryang tak layak disebut tempat tidur. Mataku terpejam, lelap hingga tak sadar kau tertidu.

Dalam tidur aku bermimpi, seorang wanita menampar pipi kanan dan kiriku saat kuhendak menciumnya hingga aku terbangun sambil berteriak menyebut sebuah nama. Nama seorang wanita yang dulu pernah bersamaku.

Sejenak kukenang wajahnya, mengingatkan aku paras cantik gadis kecil di pematang sawah.

Kebersamaan yang secara sadar kuakui terbentuk dari bisikan iblis bertameng kebenaran.
Perlahan kembali kuraih pena coba ‘tuk menulis lagi. Belum sempat kutancapkan, samar terlintas akan nilai seorang wanita.
Sebuah nilai yang terbangun dari perjalanan hidup hingga terhenti disebuah titik dimana pandangan tertuju.

Hening, sepi…
Penaku seakan malu ‘tuk meneteskan tintanya, jiwaku berontak, pikirku melayang, tak henti-henti bertanya, dimanakah titik itu berada ?

(Buah karya bunda Anaway Mansyur)


Coretan kecil untuk saudara-saudara ku tercinta, para muslimah di Indonesia.
Karena menurutku Muslimah, Wanita, Perempuan, Pemudi, dan Putri adalah sosok mahluk yang mulia. Dan itu semua telah terbukti dari sosok seorang Ibu.

Berharap aku tidak salah dalam mengemukakan pendapatku.

Wassalam,
Hamdi

December 22, 2009

I am so sad

Yaa Rabb, alhamdulillah, sekarang Hamba-MU ini sedang bersedih hatinya...

Kuatkanlah hati hamba-MU ini Yaa Rabb. Aku tahu setiap cobaan yang KAU berikan tidak akan melebihi dari kemampuan hamba-MU. Bismillah.


Salam,
Hamdi yang Patah Hati

December 17, 2009

Seorang yang bernama Ayah

Ayah, Bapak, Papa...

Tulisan ini diawali dan didedikasikan untuk seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya.....

Akan sering merasa kangen sekali dengan Mamanya..
Lalu bagaimana dengan Papa?

Mungkin karena Mama lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari, tapi tahukah kamu, jika ternyata Papa-lah yang mengingatkan Mama untuk menelponmu?
Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng, tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Papa bekerja dan dengan wajah lelah Papa selalu menanyakan pada Mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?

Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil...
Papa biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda.
Dan setelah Papa mengganggapmu bisa, Papa akan melepaskan roda bantu di sepedamu...
Kemudian Mama bilang : "Jangan dulu Papa, jangan dilepas dulu roda bantunya" Mama takut putri manisnya terjatuh lalu terluka....

Tapi sadarkah kamu?
Bahwa Papa dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.

Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Mama menatapmu iba. Tetapi Papa akan mengatakan dengan tegas : "Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang". Tahukah kamu, Papa melakukan itu karena Papa tidak ingin kamu menjadi anakyang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?

Saat kamu sakit pilek, Papa yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata : "Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!".

Berbeda dengan Mama yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut.
Ketahuilah, saat itu Papa benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.

Ketika kamu sudah beranjak remaja...
Kamu mulai menuntut pada Papa untuk dapat izin keluar malam, dan Papa bersikap tegas dan mengatakan: "Tidak boleh!".
Tahukah kamu, bahwa Papa melakukan itu untuk menjagamu?
Karena bagi Papa, kamu adalah sesuatu yang sangat-sangat luar biasa berharga..
Setelah itu kamu marah pada Papa, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu...

Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Mama..
Tahukah kamu, bahwa saat itu Papa memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya, Bahwa Papa sangat ingin mengikuti keinginanmu, Tapi lagi-lagi dia HARUS
menjagamu?

Ketika saat seorang cowok mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu, Papa akan memasang wajah paling cool sedunia.... :')
Papa sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu..
Sadarkah kamu, kalau hati Papa merasa cemburu?

Saat kamu mulai lebih dipercaya...
Dan Papa melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya.
Maka yang dilakukan Papa adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir...
Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut-larut...
Ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati Papa akan mengeras dan Papa memarahimu...
Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Papa akan segera datang? "Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Papa"

Setelah lulus SMA, Papa akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Dokter atau Insinyur. Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Papa itu semata-mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti...
Tapi toh Papa tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Papa

Ketika kamu menjadi gadis dewasa...
Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain...
Papa harus melepasmu di bandara.
Tahukah kamu bahwa badan Papa terasa kaku untuk memelukmu?
Papa hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini - itu, dan menyuruhmu untuk
berhati-hati..
Padahal Papa ingin sekali menangis seperti Mama dan memelukmu erat-erat.
Yang Papa lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata "Jaga dirimu baik-baik ya sayang".
Papa melakukan itu semua agar kamu KUAT....kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.

Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Papa. Papa pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.
Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Papa tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan...

Kata-kata yang keluar dari mulut Papa adalah : "Tidak.... Tidak bisa!"
Padahal dalam batin Papa, Ia sangat ingin mengatakan "Iya sayang, nanti Papa belikan untukmu". Tahukah kamu bahwa pada saat itu Papa merasa gagal membuat anaknya tersenyum?

Saatnya kamu di wisuda sebagai seorang sarjana.
Papa adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu.
Papa akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat "putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang"

Sampai saat seorang teman Lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada Papa untuk mengambilmu darinya. Papa akan sangat berhati-hati memberikan izin..
Karena Papa tahu.....Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.

Dan akhirnya....

Saat Papa melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Papa pun tersenyum bahagia....
Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Papa pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis?
Papa menangis karena papa sangat berbahagia, kemudian Papa berdoa....
Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Papa berkata: "Ya Tuhan tugasku telah selesai dengan baik....Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik....Bahagiaka nlah ia bersama suaminya..."

Setelah itu Papa hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk...
Dengan rambut yang telah dan semakin memutih...
Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya...
Papa telah menyelesaikan tugasnya...

Papa, Ayah, Bapak, atau Abah kita...
Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat...
Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis...
Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. .
Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa "KAMU BISA" dalam segala hal...


Aku mendapatkan notes ini dari milis tetangga, dan mungkin ada baiknya jika aku kembali membagikannya kepada teman-teman ku yang lain.
Saat ku baca tulisan ini dan kemudian ku sadur kembali, tak terasa dan tak terkira air mata ini jatuh terurai... Entah kenapa, jika mengetik mengingat dan tulisan tentang Ibu dan Ayah, selalu melow... :(


*gak kebayang, seorang preman kayak gw ini, bisa berurai air mata... :(


Terimakasih Bapak, Ayah, Papa... :)

December 16, 2009

Kecantikan Sejati

Aku pernah bertemu seseorang, yang memiliki Kecantikan yang ”luar Biasa”,
Kecantikan yang tidak terlihat oleh kasat mata,
Kecantikan yang tak dapat didefinisikan oleh ahli kecantikan dunia,
Kecantikan yang hanya mampu dideteksi oleh Hati,
Kecantikan yang berasal dari sebuah Pemaafan, Ketulusan dalam memberi, Kecantikan Sejati dari Sang Maha Pemberi Kecantikan tersebut.

Ketika manusia memandangnya dengan mengejek,
Ketika tak ada satu pejantan pun yang meliriknya,
”hanya” karena penampilannya yang menurut mereka jauh dari cantik.
Tapi sesungguhnya, dia lebih cantik dari kecantikan itu sendiri.

Dia lebih bersinar dari seluruh perhiasan yang ada di dunia ini,
Senyumnya yang tulus tanpa mengharap balas,
Kebaikan demi kebaikan mengiringi langkah-langkahnya,
Menundukkan pandangan pada yang bukan muhrimnya,
Menyibukkan diri dengan perkara Ukhrawi,
Meraih sebuah Cinta Tertinggi, dengan selalu berkeluh kesah pada-Nya,
Prasangkanya sungguh baik,
Perkataannya sungguh mengalir bak Tetes Air di padang Gersang.

Merekalah yang dijanjikan Tuhan, sebaik-baiknya Perhiasan yang ada di dunia.