Keheningan sepi dalam kesendirian, terhayalkan tubuh wanita berparas anggun dalam benakku, berdiri menunduk sembari berucap “Aku Cinta Padamu”, hayalku terhentak saat kusadar iblis telah mendekati urat nadiku.
Kuraih sebuah pena, perlahan kutulisi lembaran-lembaran putih diatas meja. Sambil menengadah, tak henti-henti lidahku berucap “Aku Cinta Padamu, aku cinta padamu, aku cinta padamu…”, hingga terhenti di satu kata “cinta”. Sebuah kata dari pemaknaan yang telah hadir jauh sebelum yang dicintai telah ada.
Sejenak kecemburuanku timbul pada semua wanita. Wanita yang selalu menjadi mahluk tercintai. Tak jarang terdengar lelaki berucap kata cinta kepada semua wanita, sebagai pelampiasan sesuatu. Sesuatu yang mungkin abadi dan mungkin pula punah.
Kecemburuanku bukanlah pada diriku yang yang tak pernah mencintai atau mungkin dicintai, melainkan karena pemilik semua cinta hampir tak sesekali terberi cinta meski kutahu ia tak pernah butuh akan hal itu.
Ia tetaplah abadi meski hambanya tak lagi memberi cinta. Keabadian yang kini ternafikkan dan bahkan tak terlihat lagi oleh kita, kamu dia dan mungkin termasuk aku.
Kuakui menjadi wanita itu hebat, sering terucap dari lidahku, “ bahwa tangisan seorang wanita menjadi kehancuran jiwa seorang lelaki”. Wanita bagiku bukanlah pembuat ide-ide baru, melainkan kehadirannya telah memaksa kaum adam ‘tuk membuat-ide-ide itu. Ide yang terlahir demi pengakuan bahwa ia juga bisa dan perlu dibanggakan.
Sungguh wanita telah memaksa lelaki ‘tuk murtad dari Tuhannya. Segalanya bukan lagi tuk Tuhan, melainkan wanita yang dipertuhankan secara sadar atau tidak.
Penaku terhenti, saat terbayang arti cinta sesungguhnya. Mereka bilang “Apalah ari sebuah nama”. Benar dan kuakui bahwa nama tak memiliki arti selain makna yang timbul dari sebuah symbol.
Cinta adalah penyembahan tanpa demi sesuatu selain kepatuhan pada apa yang dicintai. Rabiyatul Al-Adawiyah, juga seorang wanita, bahkan tak pernah berpikir ‘tuk meraih surga atau lari dari neraka ketika berhadapan dengan Tuhannya. Iblis pun demikian, kepatuhan yang dilandasi cinta hanya demi yang dicintai, bukan karena sesuatu.
Kini cinta tinggallah symbol belaka dengan berjuta makna berbeda dari setiap manusia. Symbol dari rasa suka, sayang bahkan ingin memiliki, tanpa sadar bahwa Tuhanlah pemilik segalanya, tanpa sadar bahwa Tuhanlah yang patut untuk dicintai.
Katanya cinta…
Tapi, mengapa mesti berpisah..?
Bukankah kepatuhan dalam cinta berawal dari keyakinan,….ah mungkin keyakinan yang selalu berganti atau mungkin hilang.
Keyakinan tak terbangun hanya dengan materi ataukah terlihat, melainkan lebih dari sebuah proses pengapdian hingga terhenti pada satu titik kepercayaan bahwa patutlah saya meyakininya.
Sungguh sedih jikalau aku harus berucap “aku cinta dipandangan pertama”, belum yakin sudah cinta, ah… itulah symbol cinta yang terbantahkan.
Kembali penaku tegak dan secara sadar aku tulis dan semua lelaki harus mengakui bahwa dalam dirinya selalu ada sosok wanita yang sering berganti. Berganti paras dan prilaku, tetapi semua sama berawal dari kewajaran naluri yang slalu mengklasifikasikan lawan jenisnya.
Kembali tulisanku terhenti saat kusadar bahwa aku seorang lelaki. Kuhempaskan tubuhku keatas kasuryang tak layak disebut tempat tidur. Mataku terpejam, lelap hingga tak sadar kau tertidu.
Dalam tidur aku bermimpi, seorang wanita menampar pipi kanan dan kiriku saat kuhendak menciumnya hingga aku terbangun sambil berteriak menyebut sebuah nama. Nama seorang wanita yang dulu pernah bersamaku.
Sejenak kukenang wajahnya, mengingatkan aku paras cantik gadis kecil di pematang sawah.
Kebersamaan yang secara sadar kuakui terbentuk dari bisikan iblis bertameng kebenaran.
Perlahan kembali kuraih pena coba ‘tuk menulis lagi. Belum sempat kutancapkan, samar terlintas akan nilai seorang wanita.
Sebuah nilai yang terbangun dari perjalanan hidup hingga terhenti disebuah titik dimana pandangan tertuju.
Hening, sepi…
Penaku seakan malu ‘tuk meneteskan tintanya, jiwaku berontak, pikirku melayang, tak henti-henti bertanya, dimanakah titik itu berada ?
(Buah karya bunda Anaway Mansyur)
Coretan kecil untuk saudara-saudara ku tercinta, para muslimah di Indonesia.
Karena menurutku Muslimah, Wanita, Perempuan, Pemudi, dan Putri adalah sosok mahluk yang mulia. Dan itu semua telah terbukti dari sosok seorang Ibu.
Berharap aku tidak salah dalam mengemukakan pendapatku.
Wassalam,
Hamdi
Kuraih sebuah pena, perlahan kutulisi lembaran-lembaran putih diatas meja. Sambil menengadah, tak henti-henti lidahku berucap “Aku Cinta Padamu, aku cinta padamu, aku cinta padamu…”, hingga terhenti di satu kata “cinta”. Sebuah kata dari pemaknaan yang telah hadir jauh sebelum yang dicintai telah ada.
Sejenak kecemburuanku timbul pada semua wanita. Wanita yang selalu menjadi mahluk tercintai. Tak jarang terdengar lelaki berucap kata cinta kepada semua wanita, sebagai pelampiasan sesuatu. Sesuatu yang mungkin abadi dan mungkin pula punah.
Kecemburuanku bukanlah pada diriku yang yang tak pernah mencintai atau mungkin dicintai, melainkan karena pemilik semua cinta hampir tak sesekali terberi cinta meski kutahu ia tak pernah butuh akan hal itu.
Ia tetaplah abadi meski hambanya tak lagi memberi cinta. Keabadian yang kini ternafikkan dan bahkan tak terlihat lagi oleh kita, kamu dia dan mungkin termasuk aku.
Kuakui menjadi wanita itu hebat, sering terucap dari lidahku, “ bahwa tangisan seorang wanita menjadi kehancuran jiwa seorang lelaki”. Wanita bagiku bukanlah pembuat ide-ide baru, melainkan kehadirannya telah memaksa kaum adam ‘tuk membuat-ide-ide itu. Ide yang terlahir demi pengakuan bahwa ia juga bisa dan perlu dibanggakan.
Sungguh wanita telah memaksa lelaki ‘tuk murtad dari Tuhannya. Segalanya bukan lagi tuk Tuhan, melainkan wanita yang dipertuhankan secara sadar atau tidak.
Penaku terhenti, saat terbayang arti cinta sesungguhnya. Mereka bilang “Apalah ari sebuah nama”. Benar dan kuakui bahwa nama tak memiliki arti selain makna yang timbul dari sebuah symbol.
Cinta adalah penyembahan tanpa demi sesuatu selain kepatuhan pada apa yang dicintai. Rabiyatul Al-Adawiyah, juga seorang wanita, bahkan tak pernah berpikir ‘tuk meraih surga atau lari dari neraka ketika berhadapan dengan Tuhannya. Iblis pun demikian, kepatuhan yang dilandasi cinta hanya demi yang dicintai, bukan karena sesuatu.
Kini cinta tinggallah symbol belaka dengan berjuta makna berbeda dari setiap manusia. Symbol dari rasa suka, sayang bahkan ingin memiliki, tanpa sadar bahwa Tuhanlah pemilik segalanya, tanpa sadar bahwa Tuhanlah yang patut untuk dicintai.
Katanya cinta…
Tapi, mengapa mesti berpisah..?
Bukankah kepatuhan dalam cinta berawal dari keyakinan,….ah mungkin keyakinan yang selalu berganti atau mungkin hilang.
Keyakinan tak terbangun hanya dengan materi ataukah terlihat, melainkan lebih dari sebuah proses pengapdian hingga terhenti pada satu titik kepercayaan bahwa patutlah saya meyakininya.
Sungguh sedih jikalau aku harus berucap “aku cinta dipandangan pertama”, belum yakin sudah cinta, ah… itulah symbol cinta yang terbantahkan.
Kembali penaku tegak dan secara sadar aku tulis dan semua lelaki harus mengakui bahwa dalam dirinya selalu ada sosok wanita yang sering berganti. Berganti paras dan prilaku, tetapi semua sama berawal dari kewajaran naluri yang slalu mengklasifikasikan lawan jenisnya.
Kembali tulisanku terhenti saat kusadar bahwa aku seorang lelaki. Kuhempaskan tubuhku keatas kasuryang tak layak disebut tempat tidur. Mataku terpejam, lelap hingga tak sadar kau tertidu.
Dalam tidur aku bermimpi, seorang wanita menampar pipi kanan dan kiriku saat kuhendak menciumnya hingga aku terbangun sambil berteriak menyebut sebuah nama. Nama seorang wanita yang dulu pernah bersamaku.
Sejenak kukenang wajahnya, mengingatkan aku paras cantik gadis kecil di pematang sawah.
Kebersamaan yang secara sadar kuakui terbentuk dari bisikan iblis bertameng kebenaran.
Perlahan kembali kuraih pena coba ‘tuk menulis lagi. Belum sempat kutancapkan, samar terlintas akan nilai seorang wanita.
Sebuah nilai yang terbangun dari perjalanan hidup hingga terhenti disebuah titik dimana pandangan tertuju.
Hening, sepi…
Penaku seakan malu ‘tuk meneteskan tintanya, jiwaku berontak, pikirku melayang, tak henti-henti bertanya, dimanakah titik itu berada ?
(Buah karya bunda Anaway Mansyur)
Coretan kecil untuk saudara-saudara ku tercinta, para muslimah di Indonesia.
Karena menurutku Muslimah, Wanita, Perempuan, Pemudi, dan Putri adalah sosok mahluk yang mulia. Dan itu semua telah terbukti dari sosok seorang Ibu.
Berharap aku tidak salah dalam mengemukakan pendapatku.
Wassalam,
Hamdi
